Kedatangan Hasan Tiro dan Masa Depan Aceh

Agung Pardini

Praktisi dari Makmal Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani
Dompet Dhuafa Republika

Melaporkan dari Lhokseumawe dan Aceh Utara

Tiga pekan terakhir ini Aceh kembali ramai diberitakan karena kedatangan “Wali Nanggroe” Tengku Muhammad Hasan di Tiro atau yang lebih dikenal dengan panggilan singkat Hasan Tiro. Momen ini tentu sayang untuk tidak dibicarakan, mengingat Hasan Tiro ini adalah pucuk pimpinan tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah 30 tahun meninggalkan bumi Serambi Mekkah.

Walaupun GAM itu sendiri sudah dibubarkan seiring dengan kesepakatan damai di Helsinki, tapi secara de facto Hasan Tiro ini tetap saja merupakan pemimpin bagi para anak buahnya yang kini membentuk Partai ACEH. Hal ini tampak nyata terlihat dari sambutan yang amat meriah di setiap tempat yang dikunjungi oleh Hasan Tiro. Di seluruh penjuru Aceh dapat dengan mudah kita temui bendera dan logo Partai Aceh bertebaran di mana-mana.

Banyak pertanyaan penting yang terlontar di seputar kunjungan Hasan Tiro ke Aceh. Di antaranya adalah mengenai alasan utama Hasan Tiro datang pada saat di Indonesia tengah bersiap-siap melaksanakan pemilu 2009. Pertanyaan ini tentu sangat beralasan karena di setiap daerah yang dikunjunginya pasti akan dipenuhi oleh berbagai atribut Partai Aceh yang merupakan kontestan lokal dengan kekuatan penuh dari para eks-anggota GAM. Akhirnya kunjungan Hasan Tiro ini tidak hanya dianggap sebagai momen untuk saling melepas rindu semata, tetapi juga sebagai ajang kampanye yang terbilang sangat efektif untuk meneguhkan kemenangan Partai Aceh dalam pemilu 2009 nanti.

Harus diakui bahwa Partai Aceh adalah kontestan yang paling berpeluang menang di Aceh mengungguli partai-partai besar nasional. Hal ini tampak jelas terlihat dari beberapa Pilkada di Aceh. Bila saja nanti Partai Aceh ini menang maka sampai sejauh mana kekuasaan yang diraih bisa dimanfaatkan untuk mambangun kembali Aceh dan bukan memanfaatknnya untuk kembali menggelorakan isu kemerdekaan daerah.

Namun tentunya tidak semua orang Aceh turut bergembira dengan dua minggu kedatangan tokoh ini. Sisa-sisa konflik yang berlangsung puluhan tahun tentu masih membekas di hati masyarakat. Betapa konflik yang baru bisa dihentikan setelah datangnya teguran dari Allah melalui Tsunami telah menorehkan luka mendalam yang tidak bisa disembuhkan dengan kedatangan “Wali Nangroe” sekalipun. Hasan Tiro sendiri sebagai pemimpin tertinggi GAM sudah barang tentu adalah salah satu tokoh yang juga paling bertanggung jawab terhadap jatuhnya ribuan korban jiwa semasa konflik berlangsung.

Belum lagi di beberapa daerah di Aceh hingga kini masih menjadi daerah rawan kejahatan, walaupun kerawanannya memang tidak seperti dulu ketika konflik masih berlangsung. Biasanya bila terjadi kejahatan bersenjata api maka orang-orang disana langsung menuding bahwa pelakunya adalah para eks-gerilyawan GAM. Stigma negatif masih dituduhkan kepada para mantan anggota GAM walaupun tidak terdapat bukti-bukti nyata yang mendukung tuduhan ini.

Maka dari itulah satu-satunya jalan penyelesaian permasalahan di Aceh adalah kerjasama yang sinergis dan harmonis di antara semua pihak yang pernah saling berkonflik. Terlebih lagi saat ini telah banyak mantan petinggi GAM yang menduduki posisi tertinggi dibeberapa pemerintahan daerah di Aceh. Seharusnya tidak boleh lagi ada keresahan di masyarakat akibat masih adanya trauma konflik. Baik TNI, Polisi, pemerintah maupun eks-GAM harus memunculkan rasa saling percaya dan bisa bersama-sama membuktikan bahwa tidak akan ada lagi separatisme bersenjata. Dan apabila di beberapa tempat masih terdapat kejahatan bersenjata api maka hal tersebut mesti langsung dipastikan merupakan kejahatan kriminalitas biasa.

Aceh telah porak-poranda akibat konfilk dan bencana, bahkan hingga sekarang bekas-bekas itu belum lagi hilang. Di antara proyek besar Aceh selain pemulihan keamanan secara total dan pembangunan infrastruktur daerah adalah bagaimana pihak yang akan memimpin Aceh nanti mampu mengatasi permasalahan kemiskinan dan perbaikan kualitas pendidikan. Kemiskinan adalah problematika yang tidak boleh ada di Aceh yang masih kaya akan sejumlah sumber daya alam potensial. Sedangkan pendidikan adalah wahana utama bagi kelangsungan pembangunan jangka panjang Aceh yang tentunya membutuhkan sumber daya manusia lokal yang bisa mengurus berbagai warisan kekayaan Aceh di masa mendatang.

Teruslah menjaga kedaulatan budaya di tanah Serambi Mekkah sebagaimana Sultan Malik Al-Shaleh, Sultan Iskandar Muda, Nurruddin Ar-Raniry, Laksamana Malahayati, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tengku Cik Di Tiro, serta ribuan syuhada Aceh yang lain telah memperjuangkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s