Catatan Dari Pesisir Selatan Sukabumi

Agung Pardini

Ada beberapa hal baru dan suasana berbeda dalam pelatihan guru SD / MI kali ini. Karena baru sekarang ini tim dari Makmal Pendidikan harus pergi mengadakan pelatihan ke luar kota pada saat bulan Ramadhan. Biasanya setiap bulan suci di tahun-tahun yang lalu adalah kesempatan langka bagi tim Makmal Pendidikan untuk bisa “reses” dari kegiatan berkeliling ke berbagai daerah di Nusantara. Inilah momentum bagi para “Makmalian” agar bisa berkumpul secara lengkap di markasnya untuk saling berkonsolidasi dalam membicarakan program-program pelatihan dan pendampingan sekolah.

Terlebih lagi pelatihan guru SD/ MI ini harus dilaksanakan di Ciracap yang merupakan daerah paling ujung dari kabupaten Sukabumi. Orang awam biasanya lebih mengenal nama Jampang Surade dan juga Ujung Genteng dibandingkan dengan nama Ciracap itu sendiri. Lamanya perjalanan dari kota Bogor kurang lebih harus ditempuh selama 6 jam dengan melewati lintasan yang naik-turun gunung. Sedangkan bila dari Pelabuhan Ratu jaraknya masih sekitar 2-3 jam perjalanan.

Menurut rekan-rekan dari Masyarakat Mandiri, Kecamatan Ciracap adalah wilayah di pesisir selatan yang memiliki desa-desa masih tertinggal. Ketika Tim Makmal berkunjung ke sana, masih didapati kampung-kampung yang belum ada listriknya dan banyak yang mengalami kekeringan air. Karena daerah pantai, maka umumnya pekerjaan mereka adalah pengrajin gula kelapa. Sedangkan pertaniannya rata-rata masih berupa sawah tadah hujan, karena sistem irigasi di daerah ini mati sesaat ketika kemarau tiba. Akibat kekeringan, nampak banyak penduduk yang harus berjalan kaki mengambil air dari sumber mata air yang agak jauh dari rumahnya, sedangkan untuk keperluan buang air masih ada yang harus pergi dulu ke kebun. Semoga dengan program yang diadakan oleh LPI, MM dan JICA ini bisa turut memperbaiki kualitas masyarakat di daerah Ciracap ini.

Pelatihan ini merupakan sebuah tantangan baru bagi para trainer agar bisa bekerja keras menciptakan suasana segar bagi para peserta pelatihan agar tidak mengantuk di tengah terpaan rasa haus dan lapar ketika berpuasa. Akhirnya Tim Makmal yang terdiri dari tiga trainer, yakni Asep Sapa’at, Evi Afifah Hurriyati dan Agung Pardini (new makmalian) harus menyiapkan beberapa strategi unggulan, diantaranya adalah Memory Gesture. Memory Gesture ini adalah produk terbaru Makmal Pendidikan yang sedang diujicoba untuk meningkatkan daya ingat peserta terhadap materi-materi pelatihan melalui interaksi berpasangan disertai kombinasi gerakan-gerakan tangan.

Belajar dari Pak Utomo

Hal berbeda lainnya yang didapati dalam pelatihan ini adalah datangnya seorang tamu istimewa. Sebetulnya pelatihan ini dikhususkan hanya untuk guru-guru yang mengajar SD/ MI plus TK yang berada di wilayah kecamatan Ciracap, tapi diluar dugaan pelatihan ini juga diikuti oleh seorang peserta tambahan yang bernama Pak Utomo. Awalnya Pak Utomo ini adalah tokoh yang diundang untuk menyampaikan sambutanmewakili Kepala UPTD Pendidikan Ciracap yang berhalangan hadir. Lazimnya setelah seorang tokoh selesai menyampaikan sambutan dalam sebuah pembukaan suatu acara, maka tokoh tadi akan segera pamit meninggalkan acara, tapi ternyata tidak bagi Pak Utomo ini. Setelah acara pembukaan selesai, selanjutnya Pak Utomo ini justru berpindah ke barisan kursi peserta untuk sama-sama mengikuti pelatihan dengan para guru.

Pak Utomo ini adalah seorang pengawas pendidikan yang kesehariannya berkantor di UPTD Pendidikan Ciracap. Sebenarnya masih ada dua pengawas pendidikan lagi yang hadir, namun kedatangan dua tokoh ini betul-betul hanya ingin memainkan peranannya sebagai “pengawas”. Mereka berdua datang di tengah-tengah acara pelatihan, lalu duduk sebentar melihat-lihat jalannya pelatihan dan tak lupa untuk bertanya ini-itu seakan-akan mengikuti SOP pengawasan sekolah yang baku dilakukan. Kemudian setelah dirasa data yang dicari sudah didapat, maka dua pengawas tadi lalu izin pamit kembali. Sedangkan Pak Utomo nampaknya tidak mau ambil pusing dengan statusnya sebagai seorang Pengawas, ia bergabung dengan guru-guru lain tanpa ada rasa canggung. Bahkan sesekali beliau juga tampak asyik dan aktif mengikuti beragam game dan simulasi pelatihan yang diberikan oleh para trainer Makmal

Bagi Pak Tomo, yang terpenting baginya adalah tetap semangat untuk belajar dan tak segan-segan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajarinya. Sebagai bukti keseriusannya untuk terus belajar, Bapak Pengawas ini bersedia mengikuti semua sesi pelatihan selama dua hari penuh. Sekali lagi, beliau tidak peduli bahwa beliau adalah seorang pengawas pendidikan. Di sela-sela waktu istirahat siang, setelah menunaikan sholat Dzuhur berjamaah, Pak Utomo biasanya langsung membaur dengan guru-guru untuk berdiskusi di seputar masalah-masalah pendidikan sampai waktu istirahat selesai. Di waktu inilah Pak utomo bisa mendengar beberapa keluhan guru-guru terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah.

Ketika pelatihan ini ditutup, Pak utomo kembali diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau berpesan agar para guru yang telah mengikuti pelatihan harus segera mempraktekkannya di sekolahnya masing-masing, dan jangan lupa untuk mau berbagi pengalaman dengan rekan-rekan guru yang lain. Setelah acara penutupan itu selesai, dengan sigap Pak Utomo langsung menginstruksikan agar guru-guru dari SDN Cigebang dan SDN Jaringao untuk berkumpul. Kebetulan dua SD Negeri ini adalah sekolah pendampingan dari Makmal Pendidikan – LPI yang baru. Entah hal apa yang sedang mereka diskusikan, tapi yang terlihat jelas bahwa Pak Utomo tampak sedang memberikan beberapa instruksi dengan menggunakan teknik Memory Gesture yang selama dua hari beliau pelajari dari para triner Makmal. Luar Biasa…

Banyak hal yang bisa diambil pelajarannya dari sosok Pak Utomo ini, dan seharusnya para pengawas pendidikan yang lain juga dapat berperilaku seperti pengawas dari ujung pesisir kabupaten Sukabumi ini. Sungguh masih banyak di tempat lain di negeri ini, yang masih mempersepsikan jabatan pengawas menjadi sosok yang menakutkan bagi para guru dan sekolah. Padahal pengawas pendidikan pada hakekatnya adalah seorang guru pula, karena selain mereka dulunya adalah seorang guru yang mengajar di sekolah, mereka kini tetaplah menjadi seorang guru bagi guru-guru di wilayah asuhannya. Dan karakter seorang guru itu adalah pembelajar sejati. Kalau seorang guru sudah tidak lagi mau belajar, maka berhenti saja menjadi seorang guru. Lalu apabila ada pengawas pendidikan yang sudah merasa puas dengan ilmunya dan akhirnya tak mau untuk belajar lagi, maka…berhenti saja menjadi pengawas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s