MENGANTAR KE GERBANG SEKOLAH UNGGUL

Agung Pardini

Manajer Program Pengembangan Guru dan Sekolah

Makmal Pendidikan  Dompet DhuafaGambar

 

Di beberapa kali kesempatan mengisi pelatihan untuk para guru daerah, iseng-iseng saya mencoba untuk melakukan survey sederhana kepada peserta. Tujuannya tidak lain adalah untuk menakar seberapa tinggi kualitas guru-guru tersebut dalam urusan mengajar. Dengan survey ini, maka secara cepat saya akan memperoleh data awal yang bisa membantu untuk menetapkan tingkat kedalaman materi yang akan diberikan. Hal ini bagi saya sangat penting agar pelaksanaan pelatihan, walaupun durasinya singkat, tapi hasil akhirnya betul-betul bisa memberikan makna yang mendalam bagi penambahan pengetahuan guru.

Salah satu teknik survey yang saya kerjakan adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Beberapa pertanyaan yang pernah saya ajukan antara lain adalah: Siapakah di antara bapak ibu guru yang telah membuat silabus dan RPP sendiri? Adakah yang pernah membaca buku “Quantum Teaching? atau, Siapa yang tahu apa itu KKM? Beberapa pertanyaan tadi bagi sebagian guru atau sebagian mahasiswa rumpun kependidikan mungkin terlalu mudah untuk dijawab, namun bagaimana dengan jawaban dari guru-guru yang sudah bertahun-tahun hidup sebagai pejuang pendidikan di daerah terpencil.

Dari beberapa komunitas guru yang pernah saya sambangi di kampung-kampung di Aceh, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku, termasuk juga di Sumatera Barat, banyak yang menjawab tidak pernah membuat perencanaan pembelajaran secara mandiri. Tuntutan KTSP yang mewajibkan setiap sekolah untuk membuat kurikulumnya sendiri ternyata masih dirasakan sangat sulit bagi para guru. Mereka umumnya membuat perencanaan pembelajaran dengan cara saling contek (atau diperhalus menjadi “kerjasama mutualisme”) di forum Kelompok Kerja Guru (KKG) di gugusnya. Cara seperti ini biasanya dilakukan sementara waktu agar tidak menyusahkan kerja dan kinerja para guru dalam mengajar.

Membuat perencanaan pembelajaran bagi sebagian guru memang harus diakui merupakan perkara yang tidak mudah dan cukup menyita waktu di rumah. “Setiap guru memang harus bikin RPP, tapi masak hidup saya habis hanya gara-gara RPP! padahal saya juga punya kewajiban urus rumah tangga dan anak-anak di rumah”, celoteh seorang ibu guru senior menyikapi kebijakan kepala sekolahnya yang mulai mewajibkan para guru untuk membuat RPP (Rencana Program Pengajaran) setiap harinya. Adapula guru senior lain yang mengaku masih belum tahu cara membuat RPP yang baik dan benar, padahal beliau sudah mengajar puluhan tahun dan mengaku sudah lolos dalam proses sertifikasi guru.

 

***

Guru adalah garda terdepan pendidikan yan memiliki peran strategis dalam pengembangan keunggulan sekolah. Dari guru-guru terbaiklah, maka akan terlahir generasi terbaik, unggul, serta berkualitas yang mampu meretas jalan yang terbaik baik bagi para peserta didik. Sehingga pengembangan profesional untuk kaum guru secara terprogram dan berkelanjutan mutlak diperlukan dalam upaya perbaikan kualitas pendidikan dan pemuliaan kualitas generasi.

Tuntutan sistem pendidikan nasional yang berlaku saat ini menempatkan guru sebagai salah satu elemen penentu dalam kebijakan pengajaran, khususnya di level sekolah atau tingkat satuan pendidikan. Kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mewajibkan setiap sekolah untuk membuat kurikulumnya sendiri. Hal ini merupakan terobosan baru yang diharapkan bisa secara partisipatif mampu memperbaiki kualitas pendidikan dimulai dari proses pembelajaran di kelas. Namun pada kenyataannya, membuat kurikulum KTSP, atau membuat perencanaan pembelajaran, masih dirasakan sangat sulit bagi para guru, terutama bagi guru-guru di sekolah pelosok. Padahal kualitas sebuah sekolah justru berawal dari titik ini.

Hal tersebut menandakan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi pada sistem pendidikan kita. Pembenahan ini seharusnya dimulai dari upaya yang lebih serius dalam peningkatan kapasitas SDM guru secara merata di semua daerah. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebetulnya telah serius dalam menjamin mutu guru melalui sertifikasi pendidik. Walau hasilnya belum maksimal, tapi setidaknya program sertifikasi adalah bentuk pemuliaan terhadap para guru sebagai tenaga profesional yang telah kompeten di bidang pengajaran. Semestinya ini dijadikan sebagai momen penting untuk memulai langkah perbaikan di sekolah-sekolah Indonesia. Bila kapasitas guru sudah baik maka kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah secara otomatis juga akan semakin baik.

Guru tentunya perlu diberikan banyak stimulus berupa beragam program pengembangan profesional dalam rangka meningkatkan kapasitas diri di bidang keterampilan pengajaran. Setidaknya ada tiga permasalaan yang menjadi kelemahan guru ketika mengajar di kelas, yakni: 1) permasalahan komunikasi, 2) permasalahan psikologi, dan 3) permasalahan metodologi. Ketiga permasalahan tersebut menyebabkan pembelajaran di kelas menjadi kurang efektif, sehingga banyak siswa mengalami kebosanan dan lemah motivasi belajarnya.

Seharusnya guru harus mampu memberikan penyajian pembelajaran yang menarik, dan bisa membuat para siswanya aktif untuk belajar. Untuk itu diperlukan guru-guru yang tidak hanya kompeten, namun juga kreatif dalam menemukan dan mengembangkan hal-hal baru di bidang pembelajaran. Bila para guru telah kreatif dalam pembelajaran, maka kualitas sekolah akan semakin unggul.

***

Penerapan suatu kurikulum oleh setiap sekolah sebagai sebuah satuan pendidikan adalah bagian dari persiapan menghadapi tantangan zaman di masa mendatang, minimal untuk masa dua puluh tahun lagi. Pada zaman dua puluh tahun nanti, dunia pekerjaan sedang diisi oleh anak-anak yang sedang bersekolah di masa sekarang. Maka sesungguhnya kurikulum hari ini adalah cerminan masa depan bangsa. Oleh sebab itu pendidikan harus dikembangkan dalam rancangan struktur kurikulum yang bisa menerawang jiwa zaman untuk setidaknya dua dekade yang akan datang.

Namun menakar dan mengukur efektivitas kurikulum tidak bisa menggunakan sistem evaluasi yang konvensional seperti ujian atau tes. Keberhasilan kurikulum secara langsung sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan peserta didik menghadapi problem-problem masa depan. Adalah kesalahan fatal bila pengajaran terkesan diarahkan untuk sekedar mengantar siswa agar lulus ujian nasional.

Jauh sebelum bangsa ini merdeka, di fase awal abad ke-20, model sekolah semisal Taman Siswa di Yogyakarta dan INS Kayutanam di Sumatera Barat telah menisbahkan diri sebagai institusi pendidikan bumiputera yang bercita-cita membentuk generasi intelek, berbudi pekerti luhur, dan berjiwa merdeka. Semangat kolektif sebagai sebuah bangsa telah ditanam jauh ketika impian Indonesia sebagai sebuah negara itu belum terwujud. Jati diri dan watak bangsa dibentuk sebelum entitas tentang kesamaan nasib akan diubah menjadi republik.  Pendidikan dengan kurikulumnya disusun sebagai sebuah mimpi dan cita-cita bersama,yakni kemerdekaan yang hakiki. Sehingga hakekat sekolah bukanlah sebagai lokasi belajar semata, melainkan wahana diskusi dan gagasan tentang konsep kebangsaan.

Bangsa yang unggul adalah bangsa yang terdidik. Semakin baik pendidikan pada suatu bangsa, maka tentu semakin unggul pula kualitas hidup segenap warga negaranya. Sehingga salah satu fungsi negara yang telah dikonsep oleh para sesepuh Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Keunggulan pendidikan itu sendiri bukan dari jenis isi atau muatan kurikulum itu sendiri, melainkan dari ruh atau wawasan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dan tantangan di masa mendatang.

Masa depan bukan untuk ditunggu, tapi harus direncanakan. Pendidikan adalah pembentuk jiwa zaman untuk sekurang-kurangnya dua dasawarsa mendatang. Di masa depan, bangsa pemenang adalah bangsa yang menciptakan masa depan itu sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s