BERGURU KEPADA PEMIMPIN PEMBELAJAR

Orang tua yang sangat pandai ini seorang yang jenius dalam bidang bahasa, mampu bicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit tujuh bahasa (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang), mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya ia melarat.”

 

Inilah komentar lugas seorang Profesor Schermerhorn tentang seorang diplomat ulung dari Indonesia, Haji Agus Salim. Dalam buku hariannya, secara jujur mantan Perdana Menteri Belanda ini menyatakan kekagumannya yang luar biasa terhadap intelektualitas seorang pria dari sebuah bangsa yang baru saja terbebas dari rantai penjajahan. Padahal H. Agus Salim itu sendiri merupakan “lawan” Schermerhorn dalam serangkaian perundingan antara Indonesia dan Belanda di masa-masa revolusi fisik. Dengan kepiawaiannya dalam berpidato dan berargumentasi, Haji Agus Salim yang berperangai sahaja itu mampu membuktikan kepada kepada bangsa-bangsa di dunia tentang kesiapan dan kesanggupan Indonesia menjadi negara merdeka, berdaulat, dan mampu mengatur urusannya sendiri.

Haji Agus Salim merupakan tokoh nasionalis Islam yang dikagumi oleh banyak kalangan, termasuk lawan-lawan politiknya yang biasanya berasal dari tokoh-tokoh golongan kiri. Pendidikannya yang tidak lebih hanya HBS (Hoogere Burger School) atau setingkat SMA zaman Kolonial Belanda, sama sekali tidak menghalanginya untuk bisa bersanding dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar dunia. Pengalaman dirinya sebagai salah satu petinggi Syarikat Islam yang mendampingi HOS. Tjokroaminoto telah banyak menempa kepribadiannya menjadi politisi papan atas yang sangat dibanggakan di negeri ini.

Dunia pergerakan yang digelutinya sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter berpikir H. Agus Salim yang sangat gigih dalam menentang kolonialisme Belanda di wilayah Nusantara. Konsistensinya terhadap perjuangan pergerakan nasional bahkan telah ditunjukan dengan tidak menyekolahkan semua anak-anaknya di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial. Haji Agus Salim sendirilah yang mendidik anak-anaknya langsung di rumah dengan menggunakan bahasa Belanda yang aktif. Hal ini dilakukan karena menurut pendapatnya pendidikan yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda saat itu lebih dirancang untuk membangun mentalitas anak-anak pribumi agar sesuai dengan tujuan kolonial.

Sosoknya yang sangat idealis sebagai seorang patriot dan pejuang telah menyebabkan kepentingan diri dan keluarganya banyak dikorbankan demi kepentingan yang jauh lebih besar, yakni kemerdekaan Indonesia. Padahal jika ia mau, pemilik julukan “The Grand Old Man” ini bisa saja hidup dalam berbagai kemewahan hidup. Dengan kemampuan akademik yang dimiliki, rasanya tidak terlalu sulit bagi seorang diplomat senior sekelas H. Agus Salim untuk sekedar mencari kekayaan harta. Maka pantaslah bila kita menghormatinya sebagai seorang Guru Bangsa.

Tidak jauh berbeda dengan Haji Agus Salim, bangsa Indonesia juga masih memiliki banyak tokoh yang pantas ditempatkan sebagai guru bangsa. Di antaranya adalah Drs. Mohammad Hatta, atau yang juga dikenal dengan Bung Hatta. Pria berkaca mata tebal kelahiran Bukit Tinggi tahun 1902 ini kita kenal sebagai sosok proklamator yang sangat kuat karakter akademisnya. Setiap lontaran kata-katanya, baik lisan maupun tulisan, merupakan cerminan keilmuannya yang amat kuat mempengaruhi gaya berpikirnya. Hidupnya yang penuh dengan kegiatan membaca telah membentuknya sebagai tokoh yang selalu serius dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Sejak masih bersekolah di MULO (setingkat dengan SMP), Hatta remaja telah bergabung menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB). Ketika sedang mengambil kuliah ekonomi di negeri Belanda, ia kemudian aktif di dalam kepengurusan Perhimpunan Indonesia, sebuah perkumpulan mahasiswa asal Nusantara yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Lewat Perhimpunan Indonesia inilah Bung Hatta pada tahun 1927 pernah mewakili Indonesia dalam Kongres Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussel. Tidak tanggung-tanggung, Bung Hatta sebagai seorang intelektual dari sebuah negeri terjajah berhasil terpilih menjadi salah satu anggota badan eksekutif bersanding dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Albert Einstein dan Pandit Jawaharlal Nehru.

Bung Hatta bukan saja sosok seorang pejuang yang berani, tetapi ia juga adalah pribadi pembelajar yang sangat disiplin serta intelektual namun sangat bersahaja. Sepulang dari Belanda, setelah selama delapan tahun bekerja keras meraih gelar sarjana di bidang ekonomi, “harta benda” yang dibawanya adalah ribuan buku yang disusun ke dalam 16 peti. Untuk merapikan kembali buku-buku tersebut ke dalam lemari di kamarnya butuh waktu sekitar tiga hari lamanya. Untuk memenuhi hasratnya yang begitu tinggi terhadap buku, setiap hari Bung Hatta cukup sekali saja memakan nasi, yaitu pada saat makan siang. Sedangkan pagi dan malam harinya, beliau cukup memakan sepotong roti atau buah-buahan dengan ditemani secangkir kopi yang sudah menjadi kesenangannya.

Sebagaimana karakter universal seorang pejuang yang senantiasa bersikap rela berkorban, keseriusannya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini membuat dirinya seringkali berurusan dengan pemerintah kolonial Belanda. Mulai dari ancaman penjara sewaktu masih aktif di Perhimpunan Indonesia di Belanda, hingga diasingkan ke Boven Digul di pedalaman Papua dan kemudian pindah ke Banda Neira semua pernah dialaminya. Bahkan untuk urusan cinta, Bung Hatta termasuk kategori “pria dingin” yang memiliki tekad hanya mau menikah dengan seorang wanita apabila bangsa ini telah benar-benar mencapai kemerdekaan. Tapi untunglah, pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia berhasil diproklamasikan dengan Bung Hatta sendiri sebagai salah satu tokoh proklamatornya mendampingi Ir. Soekarno atas nama bangsa Indonesia. Tidak terlalu lama setelah momen bersejarah itu, Bung Hatta akhirnya menikah dengan seorang gadis muda asal Sukabumi yang dicarikan langsung oleh sahabat karibnya, Presiden Soekarno.

Profile guru bangsa lain yang sangat besar peranannya dalam lintasan sejarah Indonesia di antaranya adalah RM. Suwardi Suryaningrat, atau yang lebih kita kenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Salah satu tokoh Tiga Serangkainya Indische Partij ini mengubah jalan perjuangannya dari ranah politik menjadi ranah pendidikan. Selepas masa pengasingannya di Belanda yang dimanfaatkan untuk mengambil kuliah Akta Mengajar, mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk mendirikan perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922.

Taman Siswa pada zaman pergerakan telah menjadi simbol dan alat perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang dipandang lebih menguatkan akar penjajahan di dalam benak para siswa pribumi. Taman Siswa dirancang sebagai institusi pendidikan rakyat yang bertujuan menanamkan rasa kebangsaan yang dilandasi oleh nilai-nilai paedagogis humanis. Ki Hadjar Dewantara telah menggabungkan konsep pemikiran pendidikan Barat yang modern ala Maria Montessori dengan nilai-nilai budaya ketimuran (yang terinspirasi oleh Robindranath Tagore) untuk membentuk kesadaran peserta didik yang peduli kepada nasib bangsa yang sudah terlalu lama terjajah. Model pendidikan Taman Siswa inilah yang kemudian menjadikan pemerintah kolonial Belanda sempat mengeluarkan Wilden Schoolen Ordonantie (Undang-Undang Sekolah Liar) yang akhirnya dicabut lagi. Sikap Ki Hadjar Dewantara yang sangat nasionalis memang membuat dirinya seringkali harus berurusan dengan pihak Kolonial.

Kecintaan Ki Hadjar Dewantara kepada bangsa dan rakyat kecil telah melekat kuat dalam kepribadiannya sebagai seorang pendidik. Dengan tak segan, gelar Raden Mas (RM) Suwardi Suryaningrat yang memang disandangnya sebagai kerabat dalam kraton Pakualaman Yogyakarta secara ikhlas beliau tanggalkan dan dirubah menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sebuah nama pilihannya sendiri yang hingga kini kita kenang sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Kemewahan dan prestise tinggi yang semestinya ia dapatkan sebagai seorang bangsawan tidak lagi ia hiraukan. Baginya, penggunaan gelar kebangsawan justru malah akan mengakibatkan dirinya jauh dari rakyat, padahal pendidikan merupakan sarana untuk bisa lebih dekat dengan masyarakat. Pendidikan sudah semestinya terbuka bagi semua lapisan masyarakat, tidak lagi melihat latar belakang status sebagai bangsawan, priyayi, atau rakyat jelata sekalipun.

 

Mencari Sosok Baru Guru Bangsa

Pemilu Legislatif baru saja usai 9 April yang lalu. Banyak wajah-wajah baru yang tengah bersiap-siap mengisi kursi keterwakilan aspirasi kita di pentas parlemen periode 2009-2014. Juli mendatang pemilihan pun kembali digelar untuk menentukan siapa tokoh di nusantara ini yang layak mendapat dukungan rakyat untuk menjadi presiden RI. Masyarakat dengan harapan yang begitu tinggi hanya bisa bermimpi, semoga pesta demokrasi kali ini tidak “terlalu banyak” menghasilkan ironi. Jangan lagi ada tokoh-tokoh politik yang berani mengkhianati rakyat dengan melakukan tindakan korupsi, terlibat dalam aksi amoral, serta melupakan janji yang pernah mereka umbar di saat-saat kampanye.

Iklim demokratisasi di era transisi ini telah membuka jalan bagi setiap warga negara Indonesia untuk bisa berkompetisi menjadi calon pemimpin, baik di tingkat nasional ataupun di lokal daerah. Lewat proses pemilu, mobilitas politik kian terbuka dan terus bergerak dengan sangat cepatnya. Tanpa mempedulikan lagi kualitas diri dari masing-masing individu sang kandidat, seseorang dengan modal ketenaran dan ditopang oleh pundi-pundi dana yang besar akan mudah masuk dalam lingkaran elit politik. Akibatnya nuansa politik bangsa kita banyak diwarnai oleh para politisi baru yang minim pengalaman dalam mengurus negara. Politik yang sejatinya adalah wahana pengabdian kepada bangsa telah bergeser menjadi ajang permainan kekuasaan yang kini cenderung oligarkis.

Mengurus negara bukanlah perkara mudah, banyak tantangan, hambatan, godaan, bahkan ancaman yang selalu menyelimuti perjalanan seorang politisi. Menjadi seorang politisi bukan sekedar urusan memenangkan diri dalam pemilu, tapi adalah amanat perjuangan untuk mengusung ide-ide yang tepat bagi upaya penyelamatan negara. Negara sedang dalam kondisi krisis dan rakyat hari ini tidak butuh pemimpin politik yang hanya berpikir untuk kepentingan diri dan partainya saja. Pijakan seorang politisi bukan hanya bermodal suara saja, ia harus seorang intelektual yang sangat memahami bidang garapannya. Pemimpin harus menjadi orang yang paling siap berkorban dan mampu menahan diri dari segala godaan yang biasanya melekat dalam lingkaran kekuasaan.

Sungguh tak banyak lagi pemimpin di kalangan bangsa ini yang sekarang masih memiliki sikap, jiwa, dan kualitas pengabdian seperti yang telah dicontohkan oleh para guru bangsa. Merekalah pribadi-pribadi unggul dari zaman itu yang namanya akan senantiasa tetap dikenang sebagai putra-putra terbaik bangsa yang selama hidupnya telah rela bersusah payah bekerja keras bagi kemerdekan bangsanya dengan mengorbankan segala apa yang mereka punya. Iklim penjajahan telah menempa Haji Agus Salim, Bung Hatta, Ki Hadjar Dewantara beserta tokoh-tokoh pahlawan yang lain untuk senantiasa menghargai setiap makna dari nikmat kebebasan dan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia adalah berkah Ilahi yang diraih dengan pengorbanan banyak jiwa dan harta selama ratusan tahunlamanya.

Diperlukan sebuah gerakan penyelamatan agar bangsa ini tidak seterusnya berada dalam krisis multidimensional yang kian merendahkan harkat, martabat, dan posisi tawar kita di hadapan negara-negara dunia. Predikat sebagai salah satu negara terkorup sudah saatnya dihilangkan dari kebiasaan hidup bangsa ini. Untuk menyelamatkan negara ini, sesunguhnya kita harus memiliki calon-calon pemimpin yang setidaknya memenuhi empat kriteria utama, yakni: berkarakter intelektual, berjiwa profesional, bersahaja dan memiliki integritas moral. Sesungguhnya inilah empat ciri khas yang ada pada diri tokoh-tokoh pendiri bangsa, sehingga membuahkan nikmat kemerdekaan bagi generasi-generasi setelahnya.

Pemimpin besar adalah para manusia pembelajar yang seumur hidupnya tidak pernah berhenti memaknai kehidupan sebagai suatu rentetan perjuangan demi perbaikan nasib rakyatnya. Pemimpin besar akan senantiasa berperan sebagai guru bangsa yang sisi-sisi keteladanannya dijadikan sebagai sebuah referensi empirik yang tak terbilang harganya bagi anak-anak negeri di masa depan.

 Agung PardiniGambarGambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s