PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Budaya literasi (kemampuan membaca dan menulis) dalam perspektif keilmuan sejarah telah ditetapkan sebagai sebuah tanda zaman yang amat penting dalam pengkajian peradaban masa lalu dari sebuah bangsa. Tanpa adanya bukti-bukti tertulis, sebuah bangsa tidak akan pernah bisa mengidentifikasi kejadian-kejadian silam yang berpengaruh besar terhadap asal-usul dan proses pembentukan bangsanya. Adanya penemuan tulisan kuno ini, baik berupa media batu, kertas, ataupun kayu, adalah “jembatan bercerita” bagi para nenek moyang untuk menyeberangkan warisan-warisannya kepada generasi berikutnya.  Penemuan tujuh buah prasasti di Kutai, Kalimantan Timur, yang sering disebut dengan istilah “yupa”, merupakan bukti tertulis yang paling tertua tentang keberadaan zaman awal sejarah di Indonesia. Yupa yang merupakan peninggalan dari kurang lebih 15 abad lampau dinyatakan sebagai gerbang berakhirnya zaman prasejarah Indonesia. Ini tentu masih kalah dengan peradaban di bangsa-bangsa lain, seperti Mesir, India, Mesopatamia, Yunani, dan Cina Kuno, yang telah mengenal budaya tulis-menulis sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi.

Berabad-abad lamanya pasca nenek moyang kita mulai mengenal tulisan, ternyata bangsa ini masih tetap terbelakang dalam tingkat penguasaannya terhadap kompetensi berliterasi. Berdasarkan hasil studi perbandingan dari The International Association Evaluation Achievement (IAEA) beberapa tahun yang lalu tentang kemampuan memperoleh serta memahami informasi bacaan terhadap siswa di kelas IV SD dari 30 negara, ternyata Indonesia berada pada urutan ke-29. Sedangkan menurut hasil survey untuk kemampuan membacanya, Siswa SD di Indonesia hanya mencapai 36,1 % (peringkat 26 dari 27 negara).

Survey lain yang semakin memperkuat kondisi di atas pernah dilakukan oleh Association for the Evaluation of Education Achievement terhadap tingkat kemampuan membaca siswa di dunia. Anak-anak di Indonesia ternyata hanya mampu menyerap 30 % dari apa yang telah ia baca dan sukar sekali menjawab soal-soal uraian yang membutuhkan penalaran. padahal negara lain di Asia seperti Thailand, Singapura dan Hongkong bisa mencapai angka 65% – 80 %.

 Para guru di Indonesia pada hari ini banyak yang terjebak dengan pemakaian buku-buku paket mata pelajaran bagi kelas ajarnya, tetapi telah jarang memberi penugasan membaca buku langsung dari referensi utamanya. Orang tua pun terkadang tak peduli untuk secara rutin memberikan bacaan yang terbaik bagi anak-anaknya, walaupun telah memiliki kemampuan ekonomi yang di atas cukup. Lemahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia ini dapat terlihat dari penerbitan buku yang hanya bisa menghasilkan sekitar 8000 judul baru pertahunnya. Padahal menurut catatan Ketua IKAPI Pusat (2003), jumlah buku baru yang terbit di New Delhi, India, bisa mencapai 700 ribu judul pertahunnya sehingga kota ini dijuluki The World Book Capital. Bahkan negara tetangga kita, Vietnam, telah mampu menerbitkan buku sebanyak 116.110 judul pertahunnya.

Mendengar, Membaca, Menulis dan Berbicara merupakan empat kompetensi inti yang harus dicapai dalam kegiatan pembelajaran bahasa. Dalam paradigma pembelajaran yang baru, perhatian dan kegiatan pembelajaran bahasa bukan lagi ditekankan pada pengetahuan bahasa, melainkan dikembangkan menjadi pencapaian keterampilan berbahasa. Namun usaha pencapaian empat keterampilan berbahasa ini tidak hanya dikembangkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia saja, tetapi juga harus dikembangkan di mata pelajaran yang lain.

            Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan keterampilan berbahasa Indonesia adalah terdapatnya benturan antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, sekurangnya terdapat 726 bahasa daerah, dan dari sejumlah bahasa tersebut hanya 11 bahasa daerah yang mempunyai tradisi tulis. Penggunaan bahasa ibu yang sangat dominan di banyak daerah di Indonesia tentunya memberi tantangan lebih besar kepada para guru SD dalam mengajarkan bahasa Indonesia terutama di kelas-kelas awal.

            Kemampuan berbahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar memiliki peran penting bagi perkembangan anak. Literasi (kemampuan baca-tulis) berperan dalam membentuk dasar bagi kebanyakan pembelajaran lainnya. Anak-anak dan orang dewasa yang dapat membaca dengan baik akan mengalami kesulitan yang signifikan di sekolah dan akan mengalami kesulitan yang signifikan di sekolah bahkan akan sering gagal meraih potensinya, baik di sekolah maupun di dalam kehidupan mereka (Basic Skills Agency, 1997). Empat keterampilan berbahasa tersebut merupakan kompetensi generik (umum) sebagai bagian dari kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh semua siswa agar mampu bersosialisasi dengan baik dan bisa meningkatkan daya pemahamannya. Kecakapan yang ditanamkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini juga  merupakan “pembuka jalan” bagi siswa untuk bisa menyerap pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.

 

Pendekatan Pembelajaran Bahasa Terpadu

            Pembelajaran bahasa harus dilakukan secara utuh. Misalnya, antara keterampilan menyimak dengan berbicara tidak mungkin dipisahkan dalam suatu kegiatan belajar mengajar, begitu juga dengan keterampilan berbahasa lainnya. Bentuk pembelajaran bahasa secara terpadu bisa berupa perpaduan antara kegiatan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Keterpaduan pembelajaran bahasa dapat terjadi lewat tiga macam cara, yaitu dalam satu keterampilan berbahasa, antarketerampilan berbahasa, dan lintas kurikulum atau antarmata pelajaran (Busching dan Schwartz, 1983: 16-24 dalam Slamet, St.Y., 2007).

            Tchudi (1994) menjelaskan bahwa pada pengajaran tradisional, membaca diajarkan terpisah dari menulis. Pengajaran menulis antara lain berupa kegiatan menyalin, mengerjakan buku kerja, atau pelajaran tata bahasa. Sementara itu, berbicara dan menyimak sering diabaikan. Pada kurikulum yang terpadu, guru menekankan hubungan antar keterampilan berbahasa. Siswa menulis, mendramatisasikan apa yang mereka baca, menulis cerita, menulis puisi, permainan dan tulisan non fiksi yang mereka baca atau tampilkan, menyimak dan menanggapi gagasan dan penampilan siswa lain, menggunakan kelompok teman untuk menciptakan, menganggapi dan berkolaborasi.

            Integrasi dimaksudkan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan sehingga siswa bisa melihat koneksi yang alami di antara berbagai bentuk bahasa ketika mereka belajar untuk mencapai suatu tujuan. Selama periode waktu tertentu siswa mungkin melakukan berbagai kegiatan berbahasa misalnya menanggapi cerita secara kreatif, menyiapkan majalah dinding, atau mengumpulkan tugas ringkasan cerita dan tugas menulis menjadi satu buku. Dengan sedikit bimbingan dari guru, siswa akan memahami keterkaitan antara beberapa kemampuan berbahasa. Mereka melihat misalnya, bagaimana cerita yang mereka baca bisa mereka jadikan sebagai modal untuk menulis cerita yang mereka inginkan atau menyelesaikan cerita yang akhir ceritanya rumpang, kemudian membandingkan akhir cerita asli dengan akhir cerita yang mereka tulis.

 

Agung PardiniGambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s