KEMERDEKAAN dan SEMANGAT KETAKWAAN

Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling mulia lagi paling sempurna. Sholawat serta salam kita limpahan kepada tauladan utama kita, Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad SAW, beserta keluarga beliau, sahabat, tabiin, dan para pengikut beliau yang istiqomah hingga hari kiamat.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

 

Pada bulan Agustus tahun 2012 ini, kita sebagai bagian dari ummat Islam dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia sedang merayakan dua momen penting yang saling berdekatan. Pertama, adalah Hari Raya Idul Fitri 1433 H. selepas berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Kedua, adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-67 tahun. Kebetulan sekali di tahun 1945 dahulu terjadinya proklamasi kemerdekaan juga bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Dua momen penting ini adalah waktu yang tepat dan layak untuk bisa mengevaluasi ketakwaan kita, mulai dari ketakwaan pribadi sendiri, keluarga, lingkungan, hingga ketakwaan sebuah bangsa. Ketakwaan inilah yang membedakan kualitas seorang hamba di hadapan Allah SWT kelak di hari pembalasan. Surga yang didalam terdapat sungai-sungai yang mengalir adalah balasan bagi orang-orang yang bertakwa. Karena Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah. Mereka hidup abadi di dalamnya untuk selama-lamanya.

Hal ini sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang bertakwa yang termaktub di dalam surat Ali Imron 133-134 yang berbunyi:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi-bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) Orang-orang yang berinfak, baik di kala lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Bulan Ramadhan atau bulan puasa yang baru saja berlalu adalah dimensi waktu yang telah jelas-jelas dijadikan oleh Allah  sebagai fase kualifikasi atau ajang peningkatan kualitas ketakwaan hanya bagi-bagi yang telah beriman. Tanpa keimanan sangat sulit bagi seorang hamba untuk bisa memperoleh nikmatnya ketakwaan.  Takwa inilah yang menjadi hasil akhir (outcome) dari proses peribadatan dan pensucian diri yang telah kita lalui selama bulan Ramadhan kemarin. Sebagaimana ayat yang sering dibaca dan dihafal pada saat Ramadhan tiba: “Hai orang-orang  yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqoroh: 183)

Orang-orang bertakwa adalah mereka yang serius dan ikhlas dalam mengoptimalisasi kualitas amaliah ramadhan sebagai bukti dari tanda-tanda keimanan yang telah menghujam dan mengakar kuat dalam jiwa. Mereka pun tetap berkomitmen dan konsisten untuk menjaga kualitas tersebut, walaupun Ramadhan kini telah lewat. Maka bangsa yang bertakwa adalah bangsa yang memiliki penghormatan tinggi terhadap kesucian bulan Ramadhan dengan cara menjaganya dari perbuatan atau tradisi negatif yang cenderung mengarah kepada kemaksiatan.

Kata “Taqwa” itu sendiri berasal dari kata “Wiqoyah” jika dikatakan waqoo asy Syai’i, waqyan, wiqoyatan dan waaqiyatan berarti Shoonahu atau menjaganya. Sementara itu ar Raghib al Asfahani mengatakan bahwa wiqoyah asy Syai’i adalah menjaga sesuatu dari segala yang bisa menyakiti atau mencelakakannya. Kemudian ar Raghib mengatakan bahwa taqwa didalam definisi syariat bermakna menjaga diri terhadap hal-hal yang mengandung dosa, yaitu dengan meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan hal itu disempurnakan dengan meninggalkan sebagaian yang mubah (dibolehkan). Dan jika kita merujuk kepada setiap kamus bahasa arab tentang kata “Taqwa” maka ia kembali kepada kata “Waqo, Wiqoyatan” yang berarti menjaga dan memelihara diri dari sesuatu yang ditakutinya.

Maka tak salah bila secara sederhana kita sering mendefinisikan takwa dengan makna menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Menukil dari Kitab “Nashaihul Ibad” karya Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani, Utsman RA pernah berkata bahwa :

“ Ada lima hal yang merupakan tanda orang yang bertaqwa, yaitu :

  1. Tidak suka bergaul, kecuali dengan orang-orang yang dapat memperbaiki agamanya dan dapat membuatnya memelihara kemaluan dan lisannya
  2. Jika mendapat musibah besar dalam urusan duniawi, ia menganggapnya sebagai hukum karma
  3. Jika mendapat musibah dalam masalah agama meskipun sedikit, dia bersedih
  4. Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan yang halal sekalipun, karena khawatir kalau-kalau tercampur dengan yang haram
  5. Memandang orang lain bersih dari dosa, sementara memandang dirinya sebagai orang yang penuh dosa.”

Orang yang bertakwa adalah bukan orang yang luput dari dosa. Sebagai manusia biasa tentu memiliki mudah khilaf dan lupa. Orang-orang bertakwa tersebut bukan manusia suci, tapi pribadi yang berkomitmen untuk senantiasa mensucikan diri dengan cara bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat kepada Allah SWT. Allah berfirman:

“ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imron: 135)

Dari lima indikator ketakwaan yang dikemukakan oleh Ustman bin Affan tersebut, maka marilah kita mengevaluasi kualitas Ramadhan kemarin melalui fenomena yang jelas nampak dalam kehidupan keseharian masyarakat. Masih adakah segolongan kaum muslimin yang secara terang-terangan makan, minum atau merokok di siang hari kala yang lain berlapar puasa? Manakah yang lebih ramai aktivitas sholat berjamaah di masjid ataukah transaksi jual-beli di pusat-pusat perbelanjaan?  Menjelang akhir Ramadhan, apakah shaf-shaf sholat tarawih semakin bertambah atau berkurang? Sudahkah jamaah sholat subuh di masjid-masjid sudah berjumlah sama dengan jamaah sholat jumat? Berapa banyak dari kita yang terbiasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan minimal satu kali? Tentunya kita hanya bisa melihat pemandangan yang memilukan, karena masih sangat jauh indikator ketakwaan dari dalam jiwa masyarakat kita hari ini.

Padahal seharusnya momen Hari Raya Idul Fitri dan juga kemerdekaan RI ini bisa menggugah kita untuk terus memperbaiki kualitas diri dan masyarakat. Kemerdekaan yang kita yakini dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa harus diisi oleh semangat ketakwaan. Sebab bangsa yang kuat bukan hanya ditopang oleh sistem ekonomi dan pertahanan yang kuat, tapi juga ditentukan oleh kualitas SDM yang paripurna dengan dukungan kehidupan sosial yang diliputi oleh basis ketaatan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT masih memberi kesempatan kita semua untuk terus beristiqomah dalam memperbaiki diri. Wallahu a’lam.Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s