SENANGNYA MENDONGENG

“Kegiatan mendongeng sebenarnya tidak sekadar bersifat hiburan belaka, melainkan (juga) memiliki tujuan yang lebih luhur, yakni pengenalan alam lingkungan, budi pekerti, dan mendorong anak berperilaku positif.”

Kak Kusumo (Pendongeng)

 

DONGENG DAN CERITA

Nusantara adalah negeri yang kaya akan khazanah folklore (warisan budaya leluhur) yang disampaikan secara turun-temurun selama berabad-abad. Salah satu jenis folklore yang masih amat dikenal oleh masyarakat Indonesia di era modern sekarang ini adalah cerita-cerita tradisional atau cerita rakyat. Dari ujung timur hingga ujung barat negeri kita terdapat banyak cerita rakyat, baik berupa tradisi lisan, seperti legenda (cerita tentang asal-usul suatu daerah), fabel (cerita hewan), dongeng (kisah khayalan), dan mitos (cerita tentang dunia para dewa). Atau terdapat juga cerita yang berupa tradisi tertulis yakni suluk (cerita tentang tasawuf), babad (silsilah dan sejarah raja-raja), dan juga hikayat (cerita kepahlawanan seorang tokoh lampau).

Walaupun sebagian besar cerita yang ada tersebut merupakan fiksi, tetapi kisah-kisah tersebut masih tetap diminati dan terus diceritakan hingga generasi sekarang. Bahkan ada banyak cerita daerah yang saat ini tidak hanya populer di daerah asalnya, tetapi juga telah menyebar luas hampir ke seluruh wilayah Nusantara. Di antara cerita-cerita yang sudah sangat populer secara nasional adalah: Sangkuriang (Jawa Barat), Malin Kundang (Sumatra Barat), Kisah Aji Saka (Jawa-Bali), fabel Kancil dan Buaya, dan Legenda Danau Toba (Sumatera Utara).

Masih bertahannya tradisi-tradisi lisan hingga sekarang ini dikarenakan prosesnya tidak hanya dilakukan secara turun-temurun antar-generasi saja, tetapi saat ini sudah banyak dikisahkan kembali dalam bentuk buku cetakan dan sarana multimedia. Perkembangan ini tentunya amat mendukung upaya orangtua dan guru untuk mengenalkan anak dengan warisan budaya bangsanya. Kekayaan budaya ini semestinya bisa membuat kita bangga karena sesungguhnya bangsa kita tidaklah kalah dengan bangsa-bangsa asing yang memiliki cerita seperti Cinderella, Putri Salju atau Gadis Berkerudung Merah.

Secara umum, kegiatan menyampaikan kisah atau cerita dibagi menjadi dua jenis, yakni: mendongeng dan bercerita. Mendongeng tidaklah sama dengan bercerita. Mendongeng adalah menceritakan suatu fiksi dengan intonasi dan artikulasi yang jelas, didukung oleh mimik wajah dan gerakan yang ekspresif supaya dapat dinikmati secara mudah dan menarik. Sedangkan bercerita lebih bersifat kaku karena disampaikan dengan bahasa datar dan baku, serta lebih didasarkan pada fakta; bukan semata fiksi.

Baik dongeng maupun cerita pada intinya bermuara pada tujuan yang sama, yakni bagaimana pesan-pesan moral dapat tersampaikan tanpa mengindoktrinasi siswa. Membangun mental dan kedewasaan siswa tidak akan cukup dengan komunikasi berupa kalimat instruksi, seperti nasihat, perintah, atau marah-marah. Mendongeng akan menjadi sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa ada kesan menggurui siswa.

Sayangnya, tradisi lisan atau budaya tutur saat ini mulai tersaingi oleh televisi, internet, dan games. Selain itu, banyak orangtua atau guru yang kini tidak perlu susah payah melakukan aktivitas mendongeng bagi anak-anak dan peserta didiknya. Cukup dengan menyalakan CD/DVD Player atau komputer/laptop, segala macam tontonan bagi anak secara praktis telah tersedia. Padahal, fungsi mendongeng sebenarnya bukan hanya untuk memenuhi unsur hiburan semata, namun juga untuk penyampai pesan moral dan membangun ikatan emosional antara orangtua/guru dan anak/siswa.

 

ASPEK PSIKOLOGI MENDONGENG

Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi. Anak yang cerdas adalah anak paling kuat daya imajinasinya. Untuk itu, salah satu strategi mengembangkan kecerdasan anak adalah dengan memberikan berbagai stimulus yang bisa merangsang anak untuk bisa bermain dengan kekuatan imajinasinya. Cara yang termasuk paling efektif untuk merangsang imajinasi anak adalah dengan memberikan berbagai cerita edukatif, khususnya melalui metode mendongeng.

Para guru, khususnya yang mengajar di sekolah dasar, bisa menggunakan metode mendongeng ini untuk mendorong mental anak-anak didiknya agar dapat lebih berkembang di kelas. Maka, para guru harus memperhatikan beberapa jenis dongeng dan teknik mendongeng yang cocok untuk diberikan kepada murid-murid di tingkat sekolah dasar. Siswa sekolah dasar umumnya menyukai cerita-cerita kepahlawanan yang bersifat futuristik dan menantang.

Cobalah perhatikan tayangan-tayangan apa saja yang paling diminati oleh anak usia SD di televisi? Pastilah film-film kartun yang bercerita tentang berbagai pahlawan super yang gagah berani dalam mengalahkan para musuh-musuhnya.

Dari kecenderungan di atas, maka dongeng yang ajarkan oleh para guru harus disesuaikan dengan kebutuhan psikologi perkembangan para peserta didik. Bila dongeng yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan usia mereka, maka dongeng yang disampaikan akan sia-sia, bahkan dikhawatirkan akan menimbulkan reaksi yang negatif dari anak, misalnya apatis atau bahkan mencemooh isi cerita. Oleh karena itu, berikanlah dongeng yang tidak hanya mengandung unsur edukatif saja, tetapi juga dongeng yang bersifat inspiratif serta menghibur.

Berikut ini beberapa tips agar dongeng yang kita sampaikan dapat diterima baik oleh para siswa yang masih duduk di usia SD:

  1. Pilihlah dongeng yang menceritakan tentang sosok menggugah dari para pahlawan pemberani yang ada di dalam sejarah masa lampau. Misalnya tentang Fatahillah, yang dengan gagah berani berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dan kemudian mendirikan kota Jayakarta (Jakarta).
  2. Bisa juga guru memberikan dongeng tentang kepahlawanan yang sifatnya khayalan atau futuristik, tetapi syaratnya harus kental dengan pesan-pesan moral yang bisa membangun kedewasaan mental anak.
  3. Pada saat tertentu guru juga bisa membawakan dongeng yang ceria dan mengandung unsur-unsur canda atau humor, tetapi tetap memiliki pesan moral.
  4. Bawakan dengan cara menarik, interaktif, artikulasi yang jelas, ditambah dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang dinamis.

 

TUJUAN MENDONGENG

  1. Menanamkan nilai-nilai etika, norma dan kebiasaan hidup positif kepada siswa.
  2. Mendorong daya nalar siswa untuk belajar menyelesaikan permasalahan hidup yang kelak akan mereka hadapi.
  3. Meningkatkan daya imajinasi dan fungsi otak kanan siswa.
  4. Melatih siswa untuk berekspresi dan berkomunikasi.
  5. Mengenalkan kepada siswa tentang budaya dan alam sekitar.

 

PETIK HASIL DARI MENDONGENG

Kegiatan mendongeng sudah menjadi budaya di negeri ini sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan banyaknya cerita legenda seperti Sangkuriang dari Jawa Barat yang mengisahkan terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Asal Mula Terjadinya Danau Toba, Malin Kundang dan masih banyak lagi. Bukti ini mengindikasikan bahwa sejak dahulu kala, nenek moyang kita melakukan kegiatan mendongeng kepada anak cucunya sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.

Aktivitas mendongeng banyak mendatangkan manfaat. Apalagi dongeng yang disajikan sangat menarik dan interaktif sehingga siapa pun yang mendengar dongeng tersebut akan terkesan. Menurut pakar bahasa dan budaya Riris K. Toha-Sarumpaet, dongeng sangat bermanfaat langsung bagi orangtua/guru selaku pendongeng, dan tentu saja anak sendiri sebagai audiens, sehingga mendongeng dapat dijadikan sebagai sarana membentuk karakter anak. Sebab, melalui kegiatan mendongeng orangtua dan pendidik menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Ada empat aspek yang dikembangkan dalam kegiatan mendongeng di antaranya: kognitif, afektif, konatif, dan imajinasi.

  1. 1.      Kognitif
  • Melatih kemampuan bahasa anak-anak;
  • Melatih anak berpikir kritis dan sistematis;
  • Melatih kreativitas anak.
  1. 2.      Afektif
  • Menumbuhkan rasa empati;
  • Sebagai media bersosialisasi;
  • Sebagai media komunikasi efektif.
  1. 3.      Konatif (penghayatan)
  • Melatih anak-anak berasosiasi (mampu meniru tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita)
  1. 4.      Imajinasi
  • Dongeng melatih anak-anak ke alam fantasi;
  • Merangsang jiwa petualang anak.

 

Menurut A. Irving Hallowell (dalam Kak Mal, The Power of Story Telling, 2010: 19), ada enam manfaat dongeng yang positif untuk anak di antaranya:

  1. Mengembangkan imajinasi dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam;
  2. Memuaskan kebutuhan ekspresi;
  3. Menanamkan pendidikan moral tanpa harus menggurui;
  4. Menumbuhkan rasa humor yang sehat;
  5. Mempersiapkan apresiasi sastra;
  6. Memperluas cakrawala khayalan anak.

 

Menurut Kak Bimo, seorang pendongeng nasional, “Menceritakan dongeng pada anak pada akhirnya akan membangun kecerdasan emosional anak. Saat mendengar dongeng, anak-anak akan lebih berani untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan kritis.” Selain itu, dongeng juga masih berkaitan dengan pembiasaan anak untuk membaca buku seperti dikatakan Murti Bunanta (Ketua Kelompok Pecinta Bacaan Anak), “Mendongeng memacu anak gemar membaca buku sejak dini.”

 

JENIS-JENIS DONGENG

Anti Aarne dan Stith Thomson mengelompokkan dongeng ke dalam empat golongan besar yaitu:

  1. a.      Dongeng binatang atau fabel

Fabel mula-mula muncul di India. Pengarang fabel menggunakan tokoh binatang sebagai pengganti manusia atas dasar kepercayaan bahwa binatang bersaudara dengan manusia. Isi dari cerita fabel pun bukan mengungkapkan kejadian sebenarnya, melainkan mengiaskan suatu hal terutama berhubungan dengan watak dan pribadi manusia. (Eko Sugiarto, Mengenal Dongeng dan Prosa Lama, 2009: 15, 18).

Fabel adalah dongeng yang pelakunya terdiri dari binatang yang disifatkan seperti manusia. Dalam fabel, binatang-binatang digambarkan memiliki sifat persis seperti manusia, misalnya bisa bercakap-cakap, tertawa, menangis, dan sebagainya. Salah satu contoh tokoh fabel yang paling terkenal di Asia Tenggara adalah kancil, sedangkan di negara-negara Eropa tokoh binatangnya adalah rubah. Karakter kancil digambarkan sebagai binatang yang sangat cerdik dan selalu memiliki akal untuk menyelesaikan suatu masalah. Cerita fabel yang paling sering kita kenal yakni Kancil dan Buaya.

  1. b.      Dongeng biasa

Dongeng biasa adalah jenis dongeng dengan tokoh manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang. Dongeng yang termasuk dalam dongeng biasa yakni:

  • Dongeng tradisional, yakni dongeng yang berkaitan dengan cerita rakyat dan biasanya turun-temurun. Contohnya Malin Kundang, Jaka Tingkir, Sangkuriang, dan lain-lain.
  • Dongeng bertema, yakni dongeng yang memiliki tema seperti futuristik (modern). Contoh ceritanya Jumanji, dongeng pendidikan, dongeng sejarah, dan dongeng terapi.
  1. c.         Anekdot

Lelucon atau anekdot adalah dongeng yang dapat menimbulkan tawa bagi yang mendengarnya maupun yang menceritakannya. Lelucon dapat pula menimbulkan rasa sakit hati kepada orang yang menjadi sasaran kritik.

  1. d.        Dongeng berumus

Menurut Danandjaja, dongeng berumus adalah dongeng-dongeng yang strukturnya terdiri dari pengulangan.

 

TEKNIK MENDONGENG

Kegiatan mendongeng sangatlah mudah dan menyenangkan. Namun, sayangnya, tidak semua pendidik melakukan kegiatan mendongeng. Hal ini dikarenakan pendidik merasa tidak bisa mendongeng. Sebenarnya, setiap yang kita lihat, dengar, dan yang kita lakukan bisa menjadi sumber dongeng.

Menjadi pendongeng yang handal dan menarik perlu latihan. Ketika Anda mendongeng kepada anak-anak di depan kelas maka suara, ekspresi, gerak tubuh, dan tatapan mata sangat menentukan apakah dongeng yang diceritakan menarik atau tidak. Untuk menghasilkan suara, ekspresi yang cocok, gerak tubuh yang tepat, Anda pun perlu menguasai teknik-teknik awal mendongeng di antaranya:

  1. 1.      Latihan teknik vokal

Vokal adalah alunan nada-nada yang keluar dari suara manusia. Sedangkan teknik vokal adalah cara memproduksi suara yang baik dan benar. Berikut latihan teknik vokal yang bisa dilakukan di antaranya:

  1. Artikulasi: cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas.
  2. Pernapasan: usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.
  3. Frasering: aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar sehingga mudah dimengerti dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
  4. Sikap badan: posisi badan ketika seseorang sedang menyanyi; bisa sambil duduk, atau berdiri, yang penting saluran pernapasan tidak sampai terganggu.
  5. Resonansi: usaha untuk memperindah suara dengan memfungsikan rongga-rongga udara yang turut bervibrasi/bergetar di sekitar mulut dan tenggorokan.
  6. Vibrato: usaha untuk memperindah sebuah lagu dengan cara memberi gelombang/suara yang bergetar teratur, biasanya diterapkan di setiap akhir sebuah kalimat lagu.
  7. Improvisasi: usaha memperindah lagu dengan mengubah/menambah sebagian melodi lagu dengan profesional, tanpa mengubah melodi pokoknya.
  8. Intonasi: tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat.

 

  1. 2.      Latihan ekspresi (mimik wajah)

Ekspresi wajah adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal dan dapat menyampaikan emosi. Ketika menyampaikan cerita sebaiknya Anda melibatkan perasaan melalui ekspresi wajah. Saat isi cerita menceritakan emosi sedih, maka ekspresi wajah menampakkan kesedihan. Ekspresi wajah perlu dihayati agar cerita yang disampaikan masuk ke imajinasi siswa.

Selain ekspresi wajah, seorang pencerita harus menguasai variasi suara. Jika belum mampu mengubah-ubah suara, Anda cukup dengan menebal-tipiskan suara agar terdengar tegas dan lemah lembut.

Berikut ekspresi wajah yang sering muncul ketika mendongeng:

  1. Ekspresi sedih: terisak-isak, menangis tersedu-sedu;
  2. Ekspresi kesal: merengek-rengek;
  3. Ekspresi marah: geram;
  4. Ekspresi senang: tersipu-sipu, tertawa.

 

Menurut praktisi dongeng Agus Djapan Sodik, setelah melakukan teknik awal mendongeng, seorang pendongeng harus mempersiapkan beberapa hal sebelum bercerita:

  1. Pastikan kondisi fisik Anda dalam keadaan baik;
  2. Menghayati cerita dengan sungguh-sungguh (menguasai cerita yang akan disampaikan);
  3. Persiapkan media atau peraga yang dibutuhkan (boneka, gambar-gambar, kardus, dan lain sebagainya);
  4. Memilih adegan menarik;
  5. Memakai pakaian yang rapi dan bersih serta nyaman digunakan.

 

SAAT MENDONGENG

Tokoh utama mendongeng adalah pendongeng. Oleh sebab itu, seorang pendongeng harus memiliki kemampuan untuk menarik perhatian audiensi/siswa dan tampil prima saat mendongeng. Menurut Stephen Nowicki dan Marshall Duke, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pendongeng saat mendongeng agar dongeng yang disampaikan menarik perhatian audiensi (dalam hal ini siswa):

  1. 1.      Pola dan irama bicara

Pola dan irama suara harus diatur dengan baik. Pendongeng harus pintar memilih kapan suara tinggi dan kapan suara rendah. Ketika sedang marah, maka suara yang dikeluarkan harus tinggi, dan kalau sedang sedih suara yang dikeluarkan dengan nada rendah.

  1. 2.      Jarak dengan audiens

Saat mendongeng, pendongeng membiasakan mendekat dan menyatu dengan siswa. Jarak atau posisi saat mendongeng perlu diperhatikan agar siswa merasa nyaman.

  1. 3.        Gerak dan sikap tubuh

Gerak dan sikap tubuh kita juga akan menambah dongeng menjadi menarik. Misalnya bagaimana cara orang berlari, bagaimana cara jalan orang jahat, bagaimana cara jalan orang yang menyombongkan diri.

  1. 4.        Kontak mata

Lakukan kontak mata dengan siswa sebelum memulai mendongeng. Tatap seluruh mata siswa dengan mata berbinar menandakan mereka diperhatikan.

  1. 5.        Intonasi suara

Intonasi sangat penting dalam mendongeng karena akan menentukan karakter tokoh yang ada di dalam cerita. Misalnya tokoh orang jahat memiliki suara tinggi dan agak serak-serak basah. Dengan intonasi suara buatlah siswa seolah-olah berada dalam cerita tersebut.

Jangan lupa, interaktiflah dengan siswa. Anak-anak biasanya sangat menyukai jika mereka diikutsertakan menjadi bagian dari cerita. Setelah selesai cerita, pendongeng bisa melakukan review cerita dengan mengajukan 5W+1H sehingga siswa semakin memahami isi cerita dan kandungan nilai yang terdapat pada cerita tersebut.

 

Agung Pardini dan Rina Fatimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s